Upaya Peningkatan Mutu Pembelajaran IPA Melalui Pendidikan Berbasis Karakter

UPAYA PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN IPA MELALUI PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

 

Disusun Oleh:

OKTAVIANI PRATAMA PUTRI

10315244034

 

 

PENDIDIKAN IPA INTERNASIONAL

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011

UPAYA PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN IPA MELALUI PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

 

Oktaviani Pratama Putri

Pendidikan IPA Interbasional UNY

oktyluph@gmail.com

 

ABSTRACT

Key words: The essence of quality education, strategy to enhance the quality of teaching in schools, understanding characters, the stages of character education and character building strategies.

Education plays an essential role in shaping the human person is good or bad according to the size of the normative. With a good education system is expected to appear next generation of qualified and capable of adapting to live in a society, nation and state. Character education is an investment system of the character values to the citizens of schools that include components of knowledge, awareness or volition, and actions to implement those values, both to the Almighty God (Almighty), self, neighbor, neighborhood, or nationality thus become perfect human beings. In character education in schools, all components (stakeholders) should be involved, including the components of education itself, therefore this paper aims to improve the quality of implementation and educational outcomes in schools that lead to the achievement of the formation of noble character and morals of the students as a whole, integrated and balanced, according to competency standards.

ABSTRAK

Kata kunci: Hakekat mutu pendidikan, strategi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, pengertian karakter, tahap-tahap pendidikan  karakter dan strategi pembentukan karakter.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Untuk itu tulisan ini bertujuan agar meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia.SimakBaca secara fonetik

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang unggul dan maju. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada.”(Syaiful Sagala , 2006 : 3).

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diartikan pula bahwa karakter berpengaruh terhadap proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan menjadi anggota masyarakat yang baik sebagai individu yang baik. Akhlak/budi pekerti yang baik sangat penting dan menentukan dalam kehidupan manusia, oleh karena itu penanaman atau pendidikan akhlak bagi anak menjadi penting artinya. Tanpa karakter seseorang dengan mudah melakukan sesuatu apa pun yang dapat menyakiti atau menyengsarakan orang lain. Oleh karena itu, kita perlu membentuk karakter untuk mengelola diri dari hal negative yang erat kaitannya dengan implementasi pendidikan IPA.

Dimana visi pendidikan IPA itu sendiri yaitu mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pemahaman tentang sains dan teknologi, melalui pengembangan keterampilan berpikir, sikap dan keterampilan dalam upaya untuk memahami dirinya sehingga dapat mengelola lingkungan, dan dapat mengatasi masalah dalam lingkungannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.           Hakekat Mutu Pendidikan

Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang unggul dan maju. Banyak ahli yang mengemukakan tentang mutu, seperti yang dikemukakan oleh Edward Sallis mutu adalah sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Sedangkan dalam dunia pendidikan barang dan jasa itu bermakna dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, tetapi dan dapat dirasakan. Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulan bahwa mutu (quality ) adalah sebuah filsosofis dan metodologis, tentang (ukuran ) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut.

B.            Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah

Secara umum untuk meingkatkan mutu pendidikan harus diawali dengan strategi peningkatan pemerataan pendidikan, dimana unsure makro dan mikro pendidikan ikut terlibat, untuk menciptakan (Equality dan Equity ) , mengutip pendapat Indra Djati Sidi ( 2001 : 73 ) bahwa pemerataan pendidikan harus mengambil langkah sebagai berikut :

1. Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia sekolah baik negeri maupun swasta yang diberikan secara individual kepada siswa.

2. Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia, antara lain melalui double shift ( contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas Jauh )

3. Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka peningkatan mutu embelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yang tersedia.

4. Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang Kelas Baru (RKB ) bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap –tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta.

5. Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh.

6. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta mengangani penuntansan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

C.           Pengertian Karakter

Rutlan mengemukakan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa Latin yang berarti “dipahat”. Sebuah kehidupan, seperti sebuah blok granit yang dengan hati-hati dipahat ataupun dipukul secara sembarangan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak. Karakter gabungan dari kebijakan dan nilai-nilai yang dipahat didalam batu hidup tersebut, akan menyatakan nilai yang sebenarnya. Tidak ada perbaikan yang bersifat kosmetik, tidak ada susunan dekorasi yang dapat membuat batu yang tidak berguna menjadi suatu seni yang bertahan lama. Hanya karakter yang dapat melakukannya. Secara harfiah karakter artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau  reputasi.

“Dapat pula dinyatakan bahwa karakter pendidik adalah kualitas mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti pendidik yang merupakan kepribadian khusus yang harus melekat pada pendidik dan yang menjadi pendorong dan penegak dalam melakukan sesuatu.” (Hidayatullah, 2010:20)

Seorang pendidik dikatakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Dengan demikian pendidik yang berkarakter berarti ia memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan ataupun sifat-sifat lain yang harus melekat pada diri pendidik.

D.           Tahap-tahap Pendidikan Karakter

Berdasarkan hadis-hadis, bahwa pendidikan karakter dapat diklasifikasikan dalam tahap-tahap sebagai berikut :

1. Adab (5-6 tahun)

Pada fase ini, pada masa anak berusia 5-6 tahun, anak dididik budi pekerti, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter sebagai berikut: jujur tidak berbohong, mengenal mana yang benar dan mana yang salah, mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, dan mengenal mana yang diperintah (yang diperbolehkan) dan mana yang dilarang (yang tidak boleh dilakukan).

“Pendidikan kejujuran merupakan nilai karakter yang harus ditanamkan pada anak sedini mungkin karena nilai kejujuran merupakan nilai kunci pada kehidupan. Jika pendidikan kejujuran ini dapat berjalan secara efektif berarti kita telah membangun landasan yang kokoh berdirinya suatu bangsa.”( Hidayatullah, 2010:32)

Targetnya adalah anak telah memiliki kemampuan mengenal mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.

2. Tanggung jawab diri (7-8 tahun)

Pada usia 7 tahun, anak sudah mulai mengerti dengan apa yang namanya perintah. Perintah agar anak usia 7 tahun mulai menjalankan sholat, menunjukkan bahwa anak mulai dididik untuk bertanggung jawab, terutama dididik bertanggung jawab pada diri sendiri. Anak mulai diminta untuk membina dirinya sendiri, anak mulai dididik untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban dirinya sendiri.

“Hal-hal yang terkait dengan kebutuhan sendiri sudah harus mulai dilaksanakan pada anak usia 7 tahun. Implikasinya adalah berbagai aktivitas seperti makan sendiri (sudah tidak disuapi), mandi sendiri, berpakaian sendiri, dan lain-lain dapat dilakukannya pada usia tersebut.” (Hidayatullah, 2010:33)

Pada usia ini, anak juga mulai dididik untuk tertib dan disiplin karena pelaksanaan shalat menuntut anak untuk tertib, taat, ajek dan disiplin.

3. Caring-Peduli (9-10 tahun)

Setelah anak dididik tentang tanggung jawab diri, maka selanjutnya anak dididik untuk mulai peduli pada orang lain, terutama teman-teman sebaya yang setiap hari ia bergaul.

“Menghargai orang lain, menghormati hak-hak orang lain, bekerja sama di antara teman-temannya, membantu dan menolong orang lain, dan lain-lain merupakan aktivitas yang sangat penting pada masa ini.” (Hidayatullah, 2010:34)

Disisi lain, sebagai dampak dari kegiatan bekerja sama dan kebersamaan ini juga berdampak pada sebuah pendidikan akan pentingnya tanggung jawab pada orang lain. Oleh karena itu nilai-nilai kepemimpinan mulai tumbuh pada usia ini. Pada usia ini tampaknya tepat jika anak dilibatkan dengan nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab pada orang lain, yaitu mengenai aspek kepemimpinan.

4. Kemandirian (11-12 tahun)

Berbagai pengalaman yang telah dilalui pada usia-usia sebelumnya semakin mematangkan karakter anak sehingga akan membawa anak pada kemandirian. Kemandirian ini ditandai dengan kesiapan dalam menerima resiko sebagai konsekuensi tidak menaati aturan. Kemandirian ini juga berarti bahwa anak telah mampu bukan hanya mengenal mana yang benar mana yang salah tetapi anak telah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

“Pada fase kemandirian berarti anak telah mampu menerapkan terhadap hal-hal yang menjadi perintah atau yang diperintahkan dan hal-hal yang menjadi larangan atau yang dilarang, serta sekaligus memahami konsekuensi resiko jika melanggar aturan.” (Hidayatullah, 2010:36)

5. Bermasyarakat (13 tahun keatas)

Tahap ini merupakan tahap dimana anak dipandang telah siap memasuki kondisi kehidupan dimasyarakat. Anak diharapkan telah siap bergaul dimasyarakat dengan berbekal pengalaman-pengalaman yang dilalui sebelumnya. Setidak-tidaknya ada dua nilai penting yang harus dimiliki anak walaupun masih bersifat awal atau belum sempurna, yaitu : 1. Integritas; dan 2. Kemampuan beradaptasi.

Jika tahap-tahap pendidikan karakter ini dapat dilakukan dengan baik maka pada tingkat usia berikutnya tinggal menyempurnakan dan mengembangkannya.

E.            Strategi Pembentukan Karakter

Strategi dalam pendidikan karakter dapat dilakukan melalui sikap-sikap sebagai berikut :

1. Keteladanan

Keteladanan merupakan pendekatan pendidikan yang ampuh. Tanpa keteladanan apa yang diajarkan kepada anak-anak akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan. Metode keteladanan ini dapat dilakukan setiap saat dan sepanjang waktu.

“Keteladanan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mendidik karakter. Keteladanan guru dalam berbagai aktivitasnya akan menjadi cermin siswanya.” (Hidayatullah, 2010: 41)

Oleh karena itu, sosok guru yang bisa diteladani siswa sangat penting. Keteladanan lebih mengedepankan aspek perilaku dalam bentuk tindakan nyata daripada sekedar berbicara tanpa saksi.

“Factor penting dalam mendidik adalah terletak pada keteladanannya. Ada 3 unsur agar seseorang dapat diteladani atau menjadi teladan yaitu : kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi, memiliki kompetensi minimal, dan memiliki integritas moral.” (Hidayatullah, 2010: 42-43)

2. Penanaman kedisiplinan

“Disiplin pada hakikatnya adalah suatu ketaatan yang sungguh-sungguh yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas kewajiban serta berperilaku sebagaimana mestinya menurut tauran-aturan atau tata kelakuan yang seharusnya berlaku di dalam suatu lingkungan tertentu.” (Hidayatullah, 2010: 45)

Kedisiplinan menjadi alat yang ampuh dalam mendidik karakter. Banyak orang sukses karena menegakkan kedisiplinan. Kurangnya disiplin dapat berakibat melemahnya motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, penegakan kedisiplinan merupakan salah satu strategi dalam membangun karakter seseorang.

3. Pembiasaan

“Seseorang akan tumbuh sebagaimana lingkungan yang mengajarinya dan lingkungan tersebut juga merupakan suatu yang menjadi kebiasaan yang dihadapinya setiap hari.” (Hidayatullah, 2010:51)

Jika seseorang akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat baik, maka diharapkan ia akan terbiasa untuk selalu berbuat baik. Sebaliknya jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat kejahatan, kekerasan, maka ia akan tumbuh menjadi pelaku

kekerasan dan kejahatan yang baru. Pendididkan karakter tidak cukup hanya diajarkan melalui mata pelajaran di kelas, tetapi sekolah dapat pula menerapkan melalui pembiasaan. Kegiatan tersebut secara spontan dapat dilakukan misalnya saling menyapa, baik antar teman, antar guru maupun antar guru dengan murid.

4. Menciptakan suasana yang kondusif

“Menciptakan suasana yang kondusif disekolah merupakan upaya membangun kultur atau budaya yang memungkinkan untuk membangun karakter terutama berkaitan dengan budaya kerja dan belajar disekolah.” (Hidayatullah, 2010:52)

Sekolah yang membudayakan warganya gemar membaca tentu akan menumbuhkan suasana kondusif bagi siswa-siswanya untuk gemar membaca. Demikian juga sekolah yang membudayakan warganya untuk disiplin, aman dan bersih tentu juga akan memberikan suasana untuk terciptanya karakter yang demikian.

5. Integrasi dan Internalisasi

Pendidikan karakter membutuhkan proses internalisasi nilai-nilai. untuk itu diperlukan pembiasaan diri untuk masuk kedalam hati agar tumbuh dari dalam. Nilai-nilai karakter seperti menghargai orang lain, disiplin, jujur, amanah, sabar dan lain-lain dapat diintegrasikan dan diinternalisasikan kedalam seluruh kegiatan sekolah baik  dalam kegiatan intrakulikuler maupun kegiatan yang lain.

“Pendekatan pelaksanaan pendidikan karakter sebaiknya dilakukan secara terintegrasi dan terinternalisasi. Terintegrasi karena pendidikan karakter memang tidak dapat dipisahkan dengan aspek lain dan merupakan landasan dari seluruh aspek termasuk seluruh mata pelajaran. Terinternalisasi, karena pendidikan karakter harus mewarnai seluruh aspek kehidupan.” (Hidayatullah, 2010:55)

Yang perlu mendapatkan perhatian bahwa yang diintegrasikan adalah nilai-nilai atau konsep-konsep pendidikan karakter.

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang unggul dan maju.
  2. Untuk mewujudkan pembelajaran yang bermutu, kepemimpinan kepala sekolah dan kreatifitas guru yang professional, inovatif, kreatif, mrupakan salah satu tolok ukur dalam Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah ,karena kedua elemen ini merupakan figure yang bersentuhan langsung dengan proses pembelajaran , kedua elemen ini merupakan fugur sentral yang dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat (orang tua ) siswa
  3. Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
  4. Dengan pendidikan berkarakter diharapkan terciptanya iklim yang kondusif agar proses pendidikan tersebut memungkinkan semua unsure dapat secara langsung maupun tidak langsung memberikan dan berpartisipasi secara aktif sesuai dengan fungsi serta peranannya.
  5. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
  6. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s