Model Pengelolaan Menuju Sekolah Bertaraf Internasional

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

Menurut data Education Development Index (EDI) yang diterbitkan UNESCO pada 2007, peringkat Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 58 menjadi peringkat 62 dari antara 130 negara.  Skor EDI Indonesia adalah 0,935 yang lebih rendah daripada Malaysia (0,945) dan Brunei Darusalam (0,965). Hal ini mendorong para penanggungjawab dan pelaku pendidikan di Indonesia untuk berupaya mendesain berbagai program dan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik. (Anonim; 2010).

Salah satu kebijakan pemerintah pusat dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia adalah penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) [Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003  pasal 50 ayat (3) dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 61 ayat (1)]. Kebijakan SBI diharapkan dapat menjadi faktor pendorong bagi Pemerintah Pusat dan Daerah (Propinsi dan Kabupaten) guna meningkatkan kualitas sekolah-sekolah di Indonesia.

Di Indonesia, sekolah bertaraf internasional diawali dengan didirikannya sekolah-sekolah yang disiapkan khusus untuk menampung siswa-siwa asing, yang orangtuanya bekerja sebagai diplomat asing ataupun bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional seperti Jakarta Internasional School (JIS), yang didirikan tahun 1951. Sejak itu, mulai bermunculan berbagai sekolah bertaraf/berstandar internasional di Indonesia, baik yang didirikan oleh kantor-kantor Kedutaan Besar asing maupun oleh lembaga-lembaga swasta (domestik dan asing) yang bergerak di bidang pendidikan. (Anonim; 2010).

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional mendefinikan SBI sebagai satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu Negara anggota OECD dan atau negara maju lainnya (X), yang dirumuskan :

SNP + X

Organisation for Economic Co-Operation and Development yang selanjutnya disingkat OECD adalah organisasi internasional yang tujuannya membantu pemerintahan negara anggotanya untuk menghadapi tantangan globalisasi ekonomi. Sedangkan negara maju lainnya adalah negara yang tidak termasuk dalam keanggotaan OECD tetapi memiliki keunggulan dalam bidang pendidikan tertentu. (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah).

Walapun berbagai peraturan terkait SBI telah diterbitkan, namun belum ada panduan operasional yang jelas untuk mencapai standar tersebut. Dibangunnya faktor ’X’ oleh masing-masing SBI yang ada di Indonesia mengakibatkan sistem dan model yang dianut oleh masing-masing sekolah jadi berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, yang akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan dan lulusan yang tidak seragam. Saat ini di seluruh Indonesia sudah terdapat puluhan bahkan ratusan sekolah bertaraf internasional dengan menggunakan sistem yang berbeda-beda. Kurang lebih ada 3 (tiga) sistem yang paling banyak digunakan oleh sekolah-sekolah bertaraf internasional di Indonesia yaitu Internasional Baccalaureate (IB), Cambridge, dan Australian Curriculum(Anonim; 2010)

 B.     Pengelolaan Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama.

Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa :

“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan.”

Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa:

“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.”

Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam’an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.


Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa :

“administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal.”

Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa :

  1. Manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan;
  2. Manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan
  3. Manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.

 

Pengelolaan pendidikan meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengembangan. Perencanaan (Planning) Perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencanaan merupakan penetapan pada tindakan apa yang harus dilakukan? Apakah sebab tindakan itu harus dikerjakan? Dimanakah tindakan itu harus dikerjakan? Kapankah tindakan itu harus dikerjakan? Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu? Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu?

Pengorganisasian (Organizing) Oganisasi adalah dua orang atau lebih yang bekerjasama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran specific atau sejumlah sasaran. Dalam sebuah organisasi membutuhkan seorang pemimpin, pekerjaan pemimpin meliputi beberapa kegiatan yaitu mengambil keputusan, mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara atsan dan bawahan, memberi semangat, inspirasi dan dorongan kepada bawahan agar supaya mereka melaksanakan apa yang diperintahkan.

Pengarahan (Directing). Pengarahan adalah fungsi pengelolaan yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula. Pengawasan Pengawasan adalah fungsi pengelolaan yang berhubungan dengan usaha pemantauan kinerja agar supaya kinerja tersebut terarah dan tidak melenceng dari aturan yang sudah ditetapkan dan pemantauan berfungsi sebagai media agar kinerja tersebut terarah dan tersampaikan secara tepat. Pengembangan Pengembangan adalah fungsi pengelolaan yang harus dijadikan tolak ukur keberhasilan suatu pengelolaan, dengan adanya pengembangan pengelolaan akan berjalan sesuai dan melebihi target yang akan diperoleh. Tanpa suatu program yang baik sulit kiranya tujuan pendidikan akan tercapai.

Oleh karena itu, pengelolaan harus disusun guna memenuhi tuntutan, kebutuhan, harapan dan penentuan arah kebijakan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Pengelolaan kerja SMP merupakan penjabaran tugas dan pelaksanaan kebijakan Depdiknas yang di sesuaikan dengan kondisi obyektif. Dalam pelaksanaannya setiap kegiatan mengacu pada pengelolaan yang ada sehingga proses dan pelaksanaan aktifitas di sekolah lebih terukur, terpantau dan terkendali. Pengelolaan pendidikan berfungsi sebagai acuan bagi sekolah dalam mengukur, mengevaluasi dan merevisi kegiatan-kegiatan yang di anggap perlu.

Selain itu pengelolaan pendidikan bertujuan sebagai upaya sekolah dalam mendukung dan menjabarkan wajib belajar 9 tahun. Pengelolaan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan dan memaksimalkan segenap sumberdaya pendidikan. Juga berfungsi sebagai semacam acuan dalam melaksanakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, sekaligus sebagai alat evaluasi penyelenggaraan. Dalam kesempatan berikutnya, kafeilmu akan berusaha memberikan contoh penerapan pengelolaan pendidikan, ruang lingkup, dan fungsi-fungsi yang lain.

 C.    Strategi Untuk Meningkatkan Profesionalisme, Kompetensi Pelaksana Pendidikan Sesuai Standar SBI

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengedalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyaraakt, bangsa dan Negara (UU No. 20 tahun 2003). Pendidikan memegang peran penting dalam kehidupan di masyarakat. Melalui pendidikan, kehidupan seseorang akan menjadi lebih baik, karena mampu bekerja secara efektif dan efisien, mampu menghasilkan produk yang bermanfaat, dan mampu mengelola sumber daya alam secara efektif, dan efisien. Bahkan yang lebih penting lagi pendidikan membuat orang berpikir rasional dan mampu mengendalikan emosi, sehingga hubungan antar individu dan dengan masyarakat terjalin haromonis dan saling menyenangkan. Oleh karena itu semua negara berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya ditempuh melalui jumlah peserta didik atau jumlah lulusan satuan pendidikan saja. Jumlah lulusan yang banyak belum menjamin kondisi eknomi menjadi lebih baik. Untuk itu, demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia ini, perlu adanya profesionalisme dari pelaksana pendidikan di lembaga pendidikan yaitu guru dan kepala sekolah.

Guru merupakan salah satu komponen utama yang menentukan keberhasilan pendidikan. Peran guru sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki guru dan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Guru yang memiliki kompetensi sebagai pendidiik akan lebih berhasil dalam melaksanakan pembelajaran dibanding dengan guru yang tidak memiliki kompetensi. Guru yang berkualitas adalah guru yang profesional dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Guru yang profesional mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta menilai hasil pembelajaran. Untuk itu seorang guru yang profesional harus menguasai bahan ajar, memahami karakteristik peserta didik, dan terampil dalam memilih metode pembelajaran dan melaksanakan proses pembelajaran.

 1. Strategi Peningkatan Profesionalisme Guru

Guru yang profesional adalah yang menguasai karakteristik bahan ajar dan karakteristik peserta didik. Karakteristik bahan ajar meliputi konsep, prinsip, teori yang terdapat dalam bahan ajar. Karakteristik peserta didik meliputi potensi, sikap, minat, akhlak mulia, dan personaliti peserta didik. Penguasaan karakteristik bahan ajar dan peserta didik diperlukan untuk menentukan metode dan strategi pembelajaran. Selain itu karakteristik guru sebagai pendidik harus dapat menyesuaian dengan bahan ajar dan peserta didik. Guru harus mampu mengidentifikasi karakteristik siswa tiap kelas dan menyesuaikan dengan karakteristik di kelas tersebut. Selama ini, dalam prakteknya, bukannya guru yang mengikuti karakteristik siswa disetiap kelas namun, siswalah yang mengikuti karakteristik guru yang mengajarnya. Untuk itulah, keadaan seperti ini perlu untuk di tinjau ulang dan sebagai renungan bagi guru agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, sesuai dengan semestinya guru bertindak sebagai pengajar. Guru harus memahami bagaimana peserta didik belajara dan mampu meningkatkan minat pada mata pelajaran dan meningkatkan motivasi belajar. Peserta didik juga belajar akhlak mulia melalui pengamatan terhadap perilaku guru ketika melaksanakan proses pembelajaran di kelas dan ketika di luar kelas di sekolah. Dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas, guru harus mendorong peserta didik untuk bertanya. Dalam kenyataanya sehari-hari, tidak sedikit siswa yang mau bertanya tentang pelajaran yang mereka terima. Siswa sendiripun tidak mengetahui apa yang harus mereka tanyakan. Kebanyakan dari mereka hanya diam, dan diamnya merekapun tidak diketahui apakah diam karena sudah paham ataupun belum. Untuk itu dalam hal ini, guru yang professional harus mampu mendorong siswanya untuk bertanya mengenai materi yang diajarkan.

“Menurut John Dewey (2001), kemampuan individu untuk bertanya berdasar pengalaman merupakan hal yang penting dalam pendidikan. Pengalaman membantu untuk membentuk pemikiran atau pengetahuan seseorang. Peserta didik yang tidak pernah bertanya tidak akan bertambah pengetahuannya. Apalagi apabila peserta didik tidak tahu apa yang akan ditanyakan dan tidak tahu apa yang tidak diketahuinya.”

Guru harus terampil dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik. Tingkat perhatian peserta didik terhadap pembelajaran di kelas bervariasi. Ada siswa yang lebih suka dengan model pembelajaran yang lebih aktif seperti cooperative learning misalnya dan ada juga siswa yang lebih suka dengan pembelajaran yang bersifat pasif seperti metode ceramah tetapi masih harus dalam kondisi siswa mampu menyerap pelajarannya dan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Untuk itu guru harus terampil memilih metode pembelajaran yang tepat agar tingkat perhatian peserta didik tidak turun. Mungkin bias dengan menggabungkan kedua metode pembelajaran tersebut agar lebih bervariasi.

Aspek lain dari profesionalisme guru adalah kemampuan berkomunikasi, yaitu ucapannya jelas dan mudah dipahami peserta didik. Kalimat yang diucapkan harus jelas dan kalau menyampaikan konsep yang sulit harus diulang-ulang. Guru harus bias bersikap telaten terhadap peserta didik yang kurang mampu menangkap materi tersebut. Kalau memberikan pertanyaan juga harus jelas, kemana arah pertanyaan dan maksud dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan juga berusaha semenarik mungkin sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Demikian pula kalau memberi tugas baik kelompok maupun individu. Guru harus sejelas-jelasnya dalam memberikan tugas ataupun pelajaran kepada siswa, sehingga tidak terdengar ambigu pada siswa. Kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran juga bervariasi, ada kalau ceramah menarik dan ada yang kurang menarik, ada yang kalau bertanya juga menarik sehingga membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Untuk itu guru harus brusaha menampilkan yang sebaik mungkin dalam kondisi apapun dan menggunakan metode pembelajaran apapun. Guru juga harus mampu membangun minat peserta didik pada mata pelajaran yang diampunya. Kalau peserta didik semula tidak berminat kemudian menjadi berminat. Kemampuan ini tidak mudah dicapai, namun bisa dicapai melalui pengalaman yang selalu dianalisis melalui refleksi diri atau melalui magang pada guru senior yang sukses dalam mengelola proses pembelajaran.

“Pembelajaran yang efektif menurut Kindsvatter, Wilen,& Ishler ( 1996) adalah melalui prosedur sebagai berikut: 1) mereviu pelajaran yang lalu, 2) menyajikan pengetahuan atau keterampilan baru, 3) memberikan latihan, aplikasi konsep, 4) memberi umpak balik, atau koreksi 5) memberi latihan mandiri. 6) melakukan reviu mingguan atau bulanan.”

Hal yang penting dalam melaksanakan pembelajaran di kelas adalah aplikasi dari konsep atau teori yang diajarkan. Setiap akhir pembelajaran, guru harus melakuan refleksi terhadap pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Hasil refleksi digunakan untuk perbaikan yang akan datang. Kualitas pembelajaran di kelas merupakan salah satu indikator tingkat profesionalisme guru.

Strategi yang dapat ditempuh dalam meningkatkan profesialisme guru seperti yang dibahas di atas adalah :

  1. Melalui pelatihan yang efektif, setelah pelatihan harus ada umpan balik berupa ujian
  2. Magang pada guru yang professional.
  3. Membaca buku atau hasil penelitian tentang guru yang profesional, atau bias dengan membaca jurnal ilmu pendidikan professional yang dibaca secara teratur dapat menjaga guru agar selalu up to date pada perkembangan baru pada metode pengajaran ilmu serta memberikan saran untuk kegiatan mengajar.
  4. Melakukan refleksi diri terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.
  5. Melakukan refleksi diri terhadap prilaku yang ditampilkan di depan kelas dan di sekolah
  6. Melakukan evaluasi diri terhadap kinerja yang telah dicapai.

Menurut buku “Growing Professionally” dalam mata kuliah Pengembangan Profesi Guru, dalam meningkatkan profesionalisme seorang guru, dapat ditempuh dengan strategi-strategi :

  1. Menjalin komunikasi dengan guru yang lain.
  2. Travel.
  3. Mengikuti program sekolah lanjutan.
  4. Mengikuti pelatihan inservis dan workshop.

Penjelasan dari beberapa strategi diatas dapat dimulai dari yang pertama yaitu :

1. Menjalin komunikasi dengan guru lain.

Sumber yang paling berharga dari informasi dan inspirasi untuk guru adalah guru yang berpengalaman. Guru yang berpengalaman bias sangat membantu dalam memilih tujuan, metode dan material dalam masalah yang dihadapi oleh guru muda dikelas. Guru-guru tidak harus membatasi kontak professional mereka hanya pada guru di satu sekolahan saja tapi dapat juga dengan guru disekolah lain melalui kinjungan atau bias dengan melakukan pertemuan khusus.

2. Travel. Guru-guru juga dapat melakukan perjalanan untuk mengumpulkan banyak informasi, pengalaman dan bahan yang akan membantu mereka meningkatkan cara mengajar mereka.

Seorang guru dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan professional mereka melalui pekerjaan saat libur panjang yang berkaitan dengan ilmu mereka. Pekerjaan dilaboratorium untuk guru IPA misalnya, dapat menambah pengembangan keterampilan dan pemahaman tentang metode penelitian.

3. Mengikuti program sekolah lanjutan. Program sekolah lanjutan yang dilakukan oleh gur pemula atau guru berkelanjutan adalah untuk memperkaya pengetahuan dan mengembangkan kompetensi mengajar mereka. Masing-masing guru harus pintar dalam memilih program mana yang cocok dan terbaik yang mereka butuhkan. Program tersebut diberikan kepada guru agar mereka siap kearea yang mereka belum tahu atau belum berpengalaman. Dengan program sekolah lanjutan tersebut, guru mempunyai kesempatan untuk belajar tentang pendekatan baru dan strategi pembelajaran.

4. Mengikuti pelatihan inservis dan workshop. Faktor lain yang penting dalam meningkatkan profesionaslisme guru adalah pemberian pelatihan secara berkala. Setiap tahun guru harus diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya melalui pelatihan yang terprogram dan sistematik. Pelatihan ini juga merupakan arena untuk penyegaran dan tukar menukar pengalaman antar guru. Dalam program inservis, guru mempelajari atau mengenal kurikulum baru, pendekatan pembelajaran dan perkembangan ilmiah baru. Pelatihan diberikan agar guru dapat melaksanakan program pelatihan mereka atau melaksanakan kurikulum baru.

Kinerja guru ditentukan oleh banyak faktor, namun yang paling utama adalah ptofesionaslisme guru. Guru yang professional adalah yang menguasai bahan ajar, menguasai peserta didik, trampil dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran, dan menjadi teuladan dalam penampilan maupun ucapan di kelas dan di sekolah maupun di masyarakat. Untuk meningkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah juga harus mamantau kinerja guru melalui obervasi di kelas dan menggali informasi dari peserta didik tentang pelaksanaan pembelajaran, dan menganalisis hasil ujian sekolah dan hasil ujian nasional. Kepala sekolah harus bekerja sinergis degan pengawas sekolah dalam membangun guru yang profesional. Untuk itu pengawas harus memiliki kemampuan dalam membantu guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Kerja yang sinergis antara kepala sekolah dengan pengawas pendidikan mutlak diperlukan dalam meningkatkan kinerja guru. Untuk itu perlu dilakukan pertemuan berkala membahas pencapaian kinerja guru dan cara untuk meningkatkannya

 2. Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetisi Guru

Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan melalui optimalisasi peran kepala sekolah, sebagai : educator, manajer, administrator, supervisor, leader, pencipta iklim kerja dan wirausahawan.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan merupakan figur kunci dalam mendorong perkembangan dan kemajuan sekolah. Keberhasilan kepala sekolah yang utama adalah membentuk sikap dan kemampuan guru menjadi tenaga pendidikan yang professional dan berkompeten. Karena baik dan buruknya perilaku atau cara mengajar guru akan sangat mempengaruhi mutu output pendidikan. Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam meningkatkan kompetisi guru merupakan sebuah tuntutan prioritas agar dapat mencapai keberhasilan sekolah yang berkualitas.

Dalam hal ini, kita akan mengulas singkat mengenai hakekat kompetensi guru.

Menurut Louise Moqvist (2003) mengemukakan bahwa :

competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work.”

Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992) menyebutkan bahwa :

A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.”

 Dari kedua pendapat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.

Lebih jauh, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu :

  1. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
  2. Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.
  3. Kompetensi personal; yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah.

Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.”

Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah sebagai manajer

Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3. Kepala sekolah sebagai administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

4. Kepala sekolah sebagai supervisor

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, -tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan-, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.

 Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”.

 Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik.

5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.

Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan.

6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan.

7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Ukuran keberhasilan Kepala Sekolah dalam menjalankan tugasnya adalah dengan mengukur kemampuannya di dalam menciptakan iklim belajar mengajar dengan mempengaruhi, mengajak, dan memotivasi guru, murid dan personil lainnya untuk menjalankan tugas masing-masing dengan baik dan benar. Sehingga terciptanya iklim belajar mengajar yang kondusif, hal ini tidak terlepas dari kapasitas Kepala Sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah. Dalam kaitannya sebagai seorang pemimpin pendidikan diharapkan dapat memahami unsur-unsur kepemimpinan di bawah ini yaitu : (1) seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan yang luas tentang teori pendidikan; (2) kemampuan menganalisa situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya; (3) mampu mengidentifikasi masalah; (4) mampu mengkonseptualkan arah baru untuk perubahan.

 D.      Strategi untuk Memenuhi Sarana dan Prasarana Pendidikan yang Memadai Sesuai dengan Standar SBI

Menurut UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 42 menyatakan setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Sedangkan pada ayat ke-2 dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Tidak dapat kita pisahkan antara Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan sarana dan prasarana guna menyukseskan pendidikan di sekolah. Maka hal utama yang harus dilakukan dalam pengelolaan perlengkapan sekolah adalah pengadaan sarana dan prasarana. Untuk dapat terlaksana hal tersebut tentunya sangat membutuhkan peran kepala sekolah yang perhatian dan pintar dalam mengupayakan sarana dan prasarana yang belum ada maupun sarana dan prasarana yang sudah ada untuk dipertanggung jawabkan.

Kepala sekolah harus melakukan pendekatan dan kerjasama dengan segenap lapisan yang terdapat di sekolah. Kemampuan memahami kondisi tersebut bagi kepala sekolah amat penting, artinya kemampuan melihat secara tajam apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pelaksanaan pendidikan disekolah.

Usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah antara lain :

  1. Usaha-usaha perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan
  2. Usaha-usaha pengadaan sarana dan prasarana pendidikan
  3. Usaha-usaha penyimpanan sarana dan prasarana pendidikan
  4. Usaha-usaha menginventarisasi sarana dan prasarana pendidikan
  5. Usaha-usaha pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana pendidikan
  6. Usaha-usaha rehabilitas sarana dan prasarana pendidikan
  7. Usaha-usaha melakukan hubungan sekolah dengan masyarakat.

Pendeskripsian tentang usaha-usaha kepala sekolah sebagai administrator dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Usaha-usaha kepala sekolah dalam merencanakan pengadaan sarana prasarana pendidikan di sekolah

Perencanaan atas kebutuhan sarana dan prasarana sekolah dapat dituangkan dalam bentuk rencana anggaran belanja sekolah (RAPBS) yang dilakukan setiap satu semester sekali dan program kerja kepala sekolah yang dilakukan setiap setahun sekali.

Kepala sekolah haruslah mempunyai proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana untuk jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek. Proyeksi kebutuhan akan sarana dan prasana sekolah dibuat dengan mempertimbangkan dua aspek, ialah kebutuhan aspek pendidikan di satu pihak dan kemampuan sekolah di pihak lain.

Sarana dan prasarana yang berupa gedung, sangat bagus kalau dibuat maketnya, agar dapat diproyeksikan arah pengembangannya. Arah pengembangan tersebut, tentu sejalan dengan proyeksi kebutuhan di masa yang akan datang. Guna memproyeksikan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah di masa yang akan datang, data tentang perkembangan peserta didik, data tentang kebutuhan layanan pendidikan terhadap mereka, data tentang kebutuhan berbagai macam ruangan baik untuk teori maupun praktik, haruslah dapat di identifikasi. Dengan menggunakan analisis regresi, proyeksi kebutuhan 5 tahun, 10 tahun dan 25 tahun kedepan akan dibuat.

Imron dalam buku Persepektif Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah menyatakan bahwa ada sejumlah langkah-langkah perencanaaan pengadaan sarana dan prasarana sekolah sebagai berikut :

a. Menampung semua usulan pengadaan perlengkapan sekolah yang diajukan oleh setiap unit kerja dan atau menginventarisasi kekurangan perlengkapan sekolah.

b. Menyusun rencana kebutuhan perlengkapan sekolah untuk periode tertentu, misalnya untuk satu semester atau satu tahun ajaran.

c. Memadukan rencana kebutuhan yang telah disusun dengan perlengkapan yang tersedia sebelumnya.

d. Memadukan rencana kebutuhan dengan dana atau anggaran sekolah yang tersedia. bila dana yang tersedia tidak memadai untuk mengadakan kebutuhan tersebut, maka perlu dilakukan seleksi terhadap semua kebutuhan perlengkapan yang telah direncanakan dengan melihat urgensi setiap perlengakapan yang dibutuhkan. Semua perlengkapan yang urgen segera di daftar

e. Memadukan rencana (daftar) kebutuhan perlengkapan yang urgen dengan dana atau anggaran yang tersedia bila ternyata masih melebihi anggaran yang tersedia, maka perlu dilakukan seleksi lagi dengan cara membuat skala prioritas.

f. Menetapan rencana pengadaan akhir.

2. Usaha-usaha kepala sekolah dalam pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah

Setelah rencana pengadaan sarana dan prasarana dibuat langkah berikutnya yakni pengadaan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kepala sekolah dapat melakukan usaha pengadaan atas sarana dan prasarana pendidikan di sekolah didasarkan atas rencana pengadaan atas kebutuhan yang sebelumnya telah disusun dengan waktu yang ditetapkan namun ada kalanya kegiatan pengadaan sarana dan prasarana terlaksana karena terdapat bantuan secara incidental dari Dinas Pendidikan Kabupaten yang terkait.

“pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah pada hakekatnya merupakan upaya merealisasikan rencana pengadaan yang telah disusun sebelumnya.” (Ibrahim Bafadal : 30)

Sedangkan makna pengadaan itu sendiri adalah kegiatan untuk menghadirkan sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka manunjang pelaksanaan tugas-tugas sekolah.

Pengadaan sarana dan prasrana ini, bisa dilakukan dengan pembelian, meminta sumbangan, pengajuan bantuan ke pemerintah (untuk sekolah-sekolah negeri) menerima bantuan dari pemerintah dengan cara mengajukan secara tertulis kepada pihak atasan. Usaha untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan program sekolah yang telah ditetapkan dan pengajuan kepihak yayasan (untuk sekolah-sekolah swasta),pengajauan ke komite sekolah (dewan sekolah), tukar menukar dengan sekolah lain dan menyewa. Khusus pengadaan yang di lakukan dengan menyewa ini umumnya pada sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan yang belum mempunyai prasarana dan sarana sendiri, sementara kebuthan yang sudah mendesak tidak bisa di tunda lagi. Guna mengadakan sarana dan prasana sekolah, perlu ditetapkan aspek fungsi (utilitas) dan standart kualitasnya. Aspek fungsi (utilitas) mengacu pada kegunaan sarana dan prasarana tersebut.terkait dengan kebutuhan riil sekolah. Aspek standart kualitas mengacu pada jenis spesifikasi teknis terkai dengan merk berkualitas yang beredar di pasaran.

Pada sarana dan prasarana sekolah yang proses pengadaannya dengan pembelian, ada yang membeli secara langsung ke toko-toko sarana dan prasarana yang kini banyak beredar, ada yang langsung ke pabriknya dan ada yang dengan sistem indent. Baik yang membeli secara langsung maupun dengan sistem indent hendaknya benar-benar memperhatikan spesifikasi teknis yang dimiliki oleh sarana dan prasarana tersebut. Khusus yang sistem indent, hendaknya benar-benar dicermati antara spesifikasi teknis yang ada di dalam brosur atau leaflet promosi perusahaan dengan kenyataan setelah sarana dan prasarana tersebut dikirinkan ke sekolah. Tidak mustahil apa yang tercantum dalam leaflet atau brosur, bisa berbeda dengan realitas barangnya. Guna pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah, tim yang di tunjuk untuk pengadaan dengan sarana dan prasarana sekolah hendaknya membuat daftar ceking tentang berbagai jenis sarana dan prasarana yang akan di adakan. Daftar checking ini sangat penting agar dapat diketahui seberapa realisasi pengadaan sarana dan prasarana tersebut.

Dilakukan kegiatan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dengan harapan :

a. Meningkatkan gairah belajar bagi peserta didik dengan harapan dapat meningkatkan prestasi hasil belajar bagi peserta didik baik dibidang akademik maupun non akademik

b. Menambah motivasi kerja bagi guru dan karyawan sekolah sehingga tercipta suasana kondusif antar warga sekolah

3. Usaha-usaha kepala sekolah dalam penyimpanan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah

penyimpanan merupakan kegiatan pengurusan, penyelenggaraan dan pengaturan persediaan sarana dan prasarana pendidikan di dalam ruang penyimpanan atau gudang. Penyimpanan hanya bersifat sementara. Penyimpanan dilakukan agar barang atau sarana dan prasarana pendidikan yang sudah diadakan atau dihadirkan tidak rusak sebelum tiba saat pemakaian. Penyimpanan barang harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat-sifat barang yang disimpan. Dengan demikian nilai guna barang tidak susut sebelum barang tersebut dipakai.

4. Usaha-usaha menginventarisasi sarana dan prasarana pendidikan

Usaha kepala sekolah dalam pencatatan atas barang atau fasilitas sekolah oleh Soetjipto dijelaskan bahwa “inventarisasi adalah kegiatan melaksanakan pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan dan pencatatan barang-barang yang menjadi milik sekolah yang bersangkutan dalam semua daftar inventaris barang.”

Dalam melakukan kegiatan menginventarisasi setiap sarana dan prasarana pendidikan, kepala sekolah seharusnya mengadministrasikan dengan sebaik-baiknya dengan member kode barang sehingga mudah dalam pembuatan laporannya. Secara sederhana, Ibrahim Bafadal menjelaskan kegiatan inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan di sekolah meliputi dua kegiatan yaitu :

  1. Kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan dan pembuatan kode barang perlengkapan
  2. Kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan laporan.

Daftar barang inventaris merupakan suatu dokumen berisi jenis dan jumlah barang yang baik bergerak maupun tidak bergerak yang menjadi milik dan dikuasai Negara, serta benda dibawah tanggung jawab sekolah.

5. Usaha-usaha kepala sekolah dalam pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana pendidikan

Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut selalu dalam kondisi yang baik dan selalu siap untuk dipakai. Pemeliharaan dilakukan secara kontinyu terhadap semua barang-barang inventaris. Pemeliharaan barang inventaris kadang-kadang dianggap sebagai suatu hal yang sepela, padahal sebenarnya pemeliharaan ini merupakan suatu tahap kerja yang tidak kalah pentingnya dengan taha-tahap yang lain dalam administrasi sarana dan prasarana yang telah dibeli dengan harga mahal, akan bertambah mahal apabila tidak dipelihara sehingga tidak dapat dipergunakan.

Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara berhati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas professional yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.

Usaha yang dapat dilakukan bagi kepala sekolah dalam pemeliharaan dapat ditinjau dari dua hal yaitu :

1. Tinjauan dari sifatnya

Meliputi pemeliharaan dengan cara pengecekan pemeliharaan dengan pencegahan, pemeliharaan dengan cara perbaikan ringan dan pemeliharaan dengan cara perbaikan berskala besar.

2. Tinjauan dari waktu pemeliharaannya

Meliputi pemeliharaan secara sehari-hari dan pemeliharaan secara berskala.

Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah antara lain :

a. Pemeliharaan sarana dan prasarana yang bersifat pengecekan

Pengecekan didelegasikan kepada semua komponen sekolah sesuai dengan job kerjanya masing-masing sedangkan untuk siswa diperlukan sesuai dengan jadwal piket dari piket masing-masing tingkatankelas yang dipantau oleh wali kelasnya. Sedangkan untuk halaman dan sekitarnya, gedung sekolah menjadi tanggung jawab sepenuhnya pesuruh sekolah.

b. Pemeliharaan sarana dan prasarana yang bersifat pencegahan

Pencegahan dapat berupa himbauan kepada semua guru, karyawan dan pesuruh agar hati-hati dalam menggunakannya agar barang-barang milik sekolah selalu tetap dalam kondisi baik sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan selalu dan siap untuk digunakannya. Kegiatan lain yang serupa merupakan kegiatan pencegahan yaitu dilaksanakan secara berkala terhadap gedung sekolah yaitu pengecatan tembok gedung sekolah setiap akan dilaksanakan ujian nasional. Selain itu juga dilakukan pemagaran taman sekolah agar terhindar dari kerusakan yang dilakukan oleh binatang ternak warga.

c. Pemeliharaan sarana dan prasarana yang bersifat ringan

Maksudnya perbaikan yang dilakukan dengan alokasi dana yang dapat dijangkau oleh sekolah, yang diperlukan oleh kepala sekolah dalam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan bersifat perbaikan ringan misalnya perbaikan kursi yang rusak atau patah, perbaikan meja, perbaikan pintu kelas.

d. Pemeliharaan yang bersifat perbaikan berat

Perbaikan yang sumber dananya tidak terjangkau oleh sekolah. Seperti perbaikan gedung sekolah, perbaikan pagar sekolah dan perbaikan halaman sekolah.

e. Pemeliharaan sarana dan prasarana yang dilakukan sehari-hari

Dalam pemeliharaan ini, dapat dilakukan oleh semua personel sekolah. Misalnya halaman sekolah dibebankan sepenuhnya kepada pesuruh sekolah, ruang belajar dikerjakan oleh peserta didik dengan cara bergiliran sesuai dengan daftar piket yang dibimbing oleh wali kelasnya masing-masing, kamar kecil kebersihannya dilakukan oleh pesuruh sekolah dan kebersihan kantor dan pemakaian aliran listrik oleh penjaga sekolah.

6. Usaha-usaha rehabilitas sarana dan prasarana pendidikan

Dalam tindak rehabilitas atas sarana prasarana pendidikan dapat dilakukan dengan tinjauan menurut sifatnya yaitu rehabilitas bersifat perbaikan dan rehabilitas yang bersifat penambahan atau tambal sulam. Rehabilitas bersifat perbaikan dibagi menjadi dua kategori ringan dan kategori berat. Yang dimaksud dengan katerogori ringan adalah perbaikan dapat dilakukan bilamana biaya yang dibutuhkan terjangkau oleh sekolah seperti perbaikan meubeler, pintu kelas, papan tulis. Sedangkan rehabilitas yang dikategorikan berat adalah perbaikan dilaksanakan bilamana sekolah tidak mampu membiayai seperti : perbaikan gedng sekolah dan halaman sekolah.

7. Usaha-usaha melakukan hubungan dengan masyarakat

Selain usaha-usaha diatas, upaya kepala sekolah yang liannya yaitu melakukan hubungan dengan masyarakat. Sekolah tidk bisa berdiri sendiri tanpa adanya dukungan dari masyarakat setempat. Masyarakat harus mengenal kegiatan sekolah sepanjang yang perlu diinformasikan. Pengenalan masyarakat terhadap program dan kemajuan sekolah akan memotivasi partisipasi masyarakat dalam pengembangan sekolah. Sekolah tidaklah sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dari dunia luar, melainkan bedara dalam suatu system masyarakat yang telah tetap. Kehadiran sekolah berlandaskan kemauan masyarakat dan Negara yang mendukungnya. Oleh karena itu orang-orang yang bekerja di sekolah mau tidak mau harus bekerjasama dengan masyarakat, dalam hal ini yang berpengalaman adalah kepala sekolah yang mengaturnya.

Sarana dan prasarana standar yang diamanatkan PP No.19 tahun 2005 pasal 42 yang menyebutkan bahwa standar sarana dan prasarana sebagai berikut :

1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabotan, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan peralatan lain yang menunjang proses belajar yang teratur dan berkelanjutan.

2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang laboratorium, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat ibadah, tempat bermain, tempat rekreasi, dan tempat lain yang menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

BAB III

KESIMPULAN

 1. SBI adalah salah satu kebijakan pemerintah pusat dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia [Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003  pasal 50 ayat (3) dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 61 ayat (1)].

2. Manajemen pendidikan, bahwa :

a. Manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan;

b. Manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan

c. Manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.

3. Pengelolaan pendidikan meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengembangan.

4. Strategi Peningkatan Profesionalisme Guru :

a. Melalui pelatihan yang efektif, setelah pelatihan harus ada umpan balik berupa ujian

b. Magang pada guru yang professional.

c. Membaca buku atau hasil penelitian tentang guru yang profesional, atau bias dengan membaca jurnal ilmu pendidikan professional yang dibaca secara teratur dapat menjaga guru agar selalu up to date pada perkembangan baru pada metode pengajaran ilmu serta memberikan saran untuk kegiatan mengajar.

d. Melakukan refleksi diri terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.

e. Melakukan refleksi diri terhadap prilaku yang ditampilkan di depan kelas dan di sekolah

f. Melakukan evaluasi diri terhadap kinerja yang telah dicapai.

5. Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetisi Guru :

a. Kepala sekolah sebagai Educator (pendidik)

b. Kepala sekolah sebagai Manajer

c. Kepala sekolah sebagai Administrator

d. Kepala sekolah sebagai Supervisor (penyelia)

e. Kepala sekolah sebagai Leader (pemimpin)

f. Kepala sekolah sebagai Pencipta iklim kerja

g. Kepala sekolah sebagai Wirausahawan.

6. Strategi untuk Memenuhi Sarana dan Prasarana Pendidikan yang Memadai Sesuai dengan Standar SBI :

Usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah antara lain :

a. Usaha-usaha perencanaan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan

b. Usaha-usaha pengadaan sarana dan prasarana pendidikan

c. Usaha-usaha penyimpanan sarana dan prasarana pendidikan

d. Usaha-usaha menginventarisasi sarana dan prasarana pendidikan

e. Usaha-usaha pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana pendidikan

f. Usaha-usaha rehabilitas sarana dan prasarana pendidikan

g. Usaha-usaha melakukan hubungan sekolah dengan masyarakat.

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

 Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.

·         Sudrajat, Akhmad. 2008. Profesionalisme Kepimimpinan Kepala Sekolah. Diunduh dari : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/18/profesionalismekepemimpinan-kepala-sekolah/, pada hari Minggu, 20 Mei 2012.

·         Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s