Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha ESA

A. Arti Sila Ketuhanan yang Maha ESA

Sila pertama dari Pancasila Dasar Negara NKRI adalah Ketahuan Yang Maha Esa. Kalimat pada sila pertama ini tidak lain menggunakan istilah dalam bahasa Sansekerta ataupun bahasa Pali. Banyak diantara kita yang salah paham mengartikan makna dari sila pertama ini. Baik dari sekolah dasar sampai sekolah menengah umum kita diajarkan bahwa arti dari Ketahuan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Satu, atau Tuhan yang jumlahnya satu. Jika kita membahasnya dalam bahasa Sansekerta ataupun Pali, Ketahuan Yang Maha Esa bukanlah Tuhan yang bermakna satu.

Ketuhanan berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan berupa awalan ke- dan akhiran –an. Penggunaan awalan ke- dan akhiran –an pada suatu kata dapat merubah makna dari kata itu dan membentuk makna baru. Penambahan awalan ke- dan akhiran –andapat memberi makna perubahan menjadi antara lain: mengalami hal….sifat-sifat…

Kata ketuhanan yang beasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan ke- dan –an bermakna sifat-sifat tuhan. Dengan kata lain ketuhanan berarti sifat-sifat tuhan atau sifat-sifat yang berhubungan dengan tuhan.

Kata Maha berasal dari bahasa Sansekerta atau Pali yang bisa berarti mulia atau besar( bukan dalam pengertian bentuk). Kata Maha bukan berarti sangat. Kata “esa” juga berasal dari bahasa Sansekerta atau Pali. Kata “esa” bukan berarti satu atau tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad” yang lebih mengacu pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata “ini” (this- Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian jumlah dalam bahasa Sansekerta  atau bahasa Pali adalah kata “eka”. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan adalah “eka” bukan kata “esa”.

Dari penjelasan yang disampaikan di atas dapat dikesimpulan bahwa arti dari Ketahuan Yang Maha Esa bukanlah berarti Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan Yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya Ketahuan Yang Maha Esa

berarti  Sifat-sifat Luhur atau Mulia Tuhan yang mutlak harus ada. Jadi yang ditekankan pada sila pertama dari Pancasila ini adalah sifat-sifat luhur atau mulia, bukan Tuhannya.

B.     Makna sila Ketahuan Yang Maha Esa

Makna sila ini adalah

1)      Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-maisng menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

2)      Hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.

3)      Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing

4)      Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain.

5)      Frasa Ketahuan Yang Maha Esa bukan berarti warga Indonesia harus memiliki agama monoteis namun frasa ini menekankanke-esaan dalam beragama.

6)      Mengandung makna adanya Causa Prima (sebab pertama) yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

7)      Menjamin peenduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.

8)      Negara memberi fasilitas bagi tumbuh kembangnya agama dan dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama.

9)      Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agama masing-masing.

Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain diciptakan oleh penciptaannya. Pencipta itu adalah Causa Prima yang mempunyai hubungan dengan yang diciptakannya. Manusia sebagai makhluk yang dicipta wajib menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Dalam konteks bernegara, maka dalam masyarakat yang berdasarkan Pancasila, dengan sendirinya dijamin kebebasan memeluk agama masing-masing. Sehubungan dengan agama itu perintah dari Tuhan dan merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan oleh manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, maka untuk menjamin kebebasan tersebut di dalam alam Pancasila seperti kita alami sekarang ini tidak ada pemaksaan beragama, atau orang memeluk agama dalam suasana yang bebas, yang mandiri. Oleh karena itu dalam masyarakat Pancasila dengan sendirinya agama dijamin berkembang dan tumbuh subur dan konsekuensinya diwajibkan adanya toleransi beragama.

Jika ditilik secara historis, memang pemahaman kekuatan yang ada di luar diri manusia dan di luar alam yang ada ini atau adanya sesuatu yang bersifat adikodrati (di atas / di luar yang kodrat) dan yang transeden (yang mengatasi segala sesuatu) sudah dipahami oleh bangsa Indonesia sejak dahulu. Sejak zaman nenek moyang sudah dikenal paham animisme, dinamisme, sampai paham politheisme. Kekuatan ini terus saja berkembang di dunia sampai masuknya agama-agama Hindu, Budha, Islam, Nasrani ke Indonesia, sehingga kesadaran akan monotheisme di masyarakat Indonesia semakin kuat. Oleh karena itu tepatlah jika rumusan sila pertama Pancasila adalah Ketahuan Yang Maha Esa

Keberadaan Tuhan tidaklah disebabkan oleh keberadaban daripada makhluk hidup dan siapapun, sedangkan sebaliknya keberadaan dari makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan adalah Prima Causa yaitu sebagai penyebab pertama dan utama atas timbulnya sebab-sebab yang lain. Dengan demikian Ketahuan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan diantara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini adalah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selainNya adalah terbatas.

Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ketahuan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya trkandung dalam:

1. Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga, yang antara lain berbunyi:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa….” dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia bukan negara agama, yaitu negara yang didirikan atas landasan agama tertentu, melainkan sebagai negara yang didirikan atas landasan Pancasila atau negara Pancasila.

2. Pasal 29 UUD 1945

(1)   Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa

(2)   Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing  dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya

Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa, anti agama. Sedangkan sebaliknya dengan paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini hendaknya diwujudkan kerukunan hidup beragama, kehidupan yang penuh toleransi dalam batas-batas yang diizinkan oleh atau menurut tuntutan agama masing-masing, agar terwujud ketentraman dan kesejukan di dalam kehidupan beragama .

Untuk senantiasa memelihara dan mewujudkan 3 model hidup yang meliputi:

  1. Kerukunan hidup antar umat seagama
  2. Kerukunan hidup antar umat beragama
  3. Kerukunan hidup antar umat beragama dan Pemerintah

Tri kerukunan hidup tersebut merupakan salah satu faktor perekat kesatuan bangsa.

Di dalam memahami sila 1 Ketuhanan Yang Maha Esa, hendaknya para pemuka agama senantiasa berperan di depan dalam menganjurkan kepada pemeluk agama masing-masing untuk menaati norma-norma kehidupan beragama yang dianutnya.

Sila ke 1 Ketuhanan Yang Maha Esa ini menjadi sumber utama nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia, yang menjiwai dan mendasari serta membimbing perwujudan dan Sila II sampai dengan Sila V.

C. Pokok-pokok Yang Terkandung Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

1. Pernyataan pengakuan bangsa Indonesia pada adanya dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Pernyataan ini tidak saja dapat terbaca dalam Pembukaan UUD 1945 dimana perumusan Pancasila itu terdapat tetapi dijabarkan lagi dalam tubuh UUD 1945 itu sendiri pasal 29 ayat 1, yang berbunyi sebagai berikut :

“ Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa ”

Adanya pernyataan pengakuan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa secara yuridis constitutional ini, mewajibkan pemerintah/aparat Negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan  yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.

Dengan demikian dasar ini merupakan kunci dari keberhasilan bangsa Indonesia untuk menuju pada apa yang benarm baik dan adil. Dasar ini merupakan pengikat moril bagi pemerintah dalam menyelenggarakan tugas-tugas Negara, seperti memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk beribadat

menurut agama dan kepercayaannya (pasal 29 ayat 2 UUD 1945).

Jaminan kemerdekaan beragama yang secara yuridis constitutional ini membawa konsekuensi pemerintah sebagai berikut:

    1. Pemerintah wajib memberi dorongan dan kesempatan terhadap kehidupan keagamaan yang sehat.
    2. Pemerintah memberi perlindungan dan jaminan bagi usaha-usaha penyebaran agama, baik penyebaran agama dalam arti kwalitatif maupun kwantitatif.
    3. Pemerintah melarang adanya paksaan memeluk/meninggalkan suatu agama.
    4. Pemerintah melarang kebebasan untuk tidak memilih agama.

Pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kehidupan beragama bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan sila-sila yang lain. Oleh karena itu kehidupan beragama harus dapat membawa persatuan dan kesatuan bangsa, harus dapat mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradap, harus dapat menyehatkan pertumbuhan demokrasi, sehingga membawa seluruh rakyat Indonesia menuju terwujudnya keadilan dan kemakmuran lahir dan batin. Dalam hal ini berarti bahwa sila pertama memberi pancaran keagamaan, memberi bimbingan pada pelaksanaan sila-sila yang lain.

3. Sebagai sarana untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa, maka asas kebebasan memelu agama ini harus diikuti dengan asas toleransi antar pemeluk agama, saling menghargai dan menghormati antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yang lain dalam menjalankan ibadah menurut agama mereka masing-masing.

4. Kehidupan beragama tidak bisa dipisahkan sama sekali dari kehidupan duniawi/kemasyarakatan. Dua-duanya merupakan satu system sebagaimana satunya jiwa dan raga dalam kehidupan manusia. Agama sebagai alat untuk mengatur kehidupan di dunia, sehingga dapat mencapai kehidupan akhirat yang baik. Kehidupan beragama tidak bias lepas dari pembangunan masyarakat itu sendiri, bangsa dan Negara demi terwujudnya keadilan dan kemakmuran materiil maupun spiritual bagi rakyat Indonesia. Semakin kuat keyakinan dalam agama, semakin besar kesadaran tanggungjawabnya kepada Tuhan bangsa dan Negara, semakin besar pula kemungkinan terwujudnya kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi bangsa itu sendiri.

D. Pengamalan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Kita percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
  2. Kita melaksanakan kepercayaan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradap.
  3. Kita harus membina adanya saling menghormati antar pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Kita harus membina adanya saling kerjasama dan toleransi antara sesame pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Kita mengakui bahwa hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai hak pribadi yang paling hakiki.
  6. Kita mengakui tiap warga Negara bebas menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
  7. Kita tidak memaksakan agama dan kepercayaan kita kepada orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Iskandar,dkk.1997.Pancasila.Yogyakarta: Yayasan Penerbit FKIS-IKIP

Isis.1980.Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila(Ekaprasetya Pancakarsa).Yogyakarta: IKIP Yogyakarta

Rukiyati, dkk.2008.Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press

http://www.facebook.com/topic.php?uid=104604209740&topic=8690, diakses hari Rabu, 13 Oktober 2010 pukul 12.17 WIB

http://graha.students-blog.undip.ac.id/2009/06/12/makna-sils-pancasila/, diakses hari Rabu, 13 Oktober 2010 pukul 12.18 WIB

http://www.scribd.com/doc/38734254/makna-sila, diakses hari Kamis, 14 Oktober 2010  pukul 9.48 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

78 thoughts on “Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha ESA

    • Azkia berkata:

      Ngacooo yg nulis artikel ni… nerjemahin sesuka udelnya… esa itu udh jelas satu artinya mau dbw kmn2.. kl emang artibya sifat2 mulia tuhan yg mutlak.. ga nyambung dg sila2 berikutnya loh.. ga mgkni yg bkin pancasila bkin sila ga nyambung…makanya pancasila itu artinya tuhan yg tunggal.. krn sbnarnya drancang dominan oleh org2 bragama islam.. kl non muslim kn tuhanx 3.. 5.. 6 ..ya tho

    • Azkia berkata:

      Ngacooo yg nulis artikel ni… nerjemahin sesuka udelnya… esa itu udh jelas satu artinya mau dbw kmn2.. kl emang artibya sifat2 mulia tuhan yg mutlak.. ga nyambung dg sila2 berikutnya loh.. ga mgkni yg bkin pancasila bkin sila ga nyambung…makanya pancasila itu artinya tuhan yg tunggal.. krn sbnarnya drancang dominan oleh org2 bragama islam.. kl non muslim kn tuhanx 3.. 5.. 6 ..ya tho

  1. Arba'i berkata:

    Ke-Tuhanan Yang Maha Esa
    Ke berarti ‘menuju’, – (tanda hubung/penghubung), Tuhanan maksudanya tempat Tuhan.
    Untuk menuju ke tempat Tuhan harus melalui penghubungnya Tuhan dan membentuk, membuat penghubung tentu Tuhan sendiri bukan usulan atau hasil musyawarah manusia.

  2. Arba'i berkata:

    semoga kita menjadi bangsa Indonesia yang berjiwa Pancasila yang merdeka sejati lahir dan bathin. Amin.
    Karena GARUDA (nyiGAR njeRU DAda/membelah yang ada di dalam dada) PANCASILA adalah :
    Lima dasar manusia yang harus dijalani jika ingin masuk surga/bertemu Tuhan yakni dasar TAUBAT, ZUHUD, UZLAH, QANAAN dan TAWAKKAL ‘ALALLAH.

  3. Muh. Sidik berkata:

    Dari penjelasan yang disampaikan di atas dapat dikesimpulan bahwa arti dari Ketahuan Yang Maha Esa bukanlah berarti Tuhan Yang Hanya Satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan Yang jumlahnya satu. Tetapi sesungguhnya Ketahuan Yang Maha Esaa

    Ketahuan atau ketuhanan? salah tulis?

  4. Toko Furniture Jepara berkata:

    asslmkummm..

    artikelnya bagus dan sangat membantu,, setelah menyimak tulisannya, dalam pemikiran saya sempat bertanya, apakah pancasila masih relefan di terapkan di negara kita, yang mana nilai-nilai dari pancasila sendiri tidak mampu di tafsiri oleh masyarakat,?, ini terlihat dari permasalahn bangsa kita yang semakin lama-semakin banyak,, mengikis nilai-nilai dari falsafah pancasila,,, terimaksih, kami tunggu jawanya balik,,?.. sekali lagi terimaksih

  5. su jarwo berkata:

    Kalau menurut tapsir saya,ketuhanan yang maha esa,tidak memiliki kebenaran secara fakta,setiap orang bisa mengatakan,dan takut pada tuhan,tapi setiap orang tidak bisa membuktikan,saya tidak pernah takut sama tuhan karena menuruut penetian saya maupun keyakinan saya tuhan itu tidak ada

  6. suma warde berkata:

    setuju dengan mas su jarwo akan ketiadaan tuhan.karena beliau lah sang maha pencipta tidak lah mungkin terciptakan atau mempunyai eksistensi seperti hal nya ciptaan nya yang mengenal ruang dan waktu. sebagai seorang penghayat kepercayaan, definisi umum tentang pancasila sering kali membuat saya terasingkan, misal dalam pembuatan KTp dll. maka setuju saja jika ada penyegaran definisi yang tentunya mesti di publish ketika mendapat persetujuan dari pihak-pihak terkait semisalnya badan kurikulum nasional, tempat semua doktrin tumbuh.

  7. aii berkata:

    kata ‘esa’ di ambil dari bahasa ende yg artix satu.. Ende adalh slah stu kota di p.flores yg mana mjadi t4 pengasngan bung karno olh blnda.. Slma dt4 pengasingan beliau merumuskan pancsila sbgai dasar negara kita…

  8. junaedi ib berkata:

    masalahnya kata esa dalam pancasila bukanlah perkara substansi dari awal dan arti kata menurut bahasa pali ataupun sanskerta, kata kata esa dalam pancasila tersebut sudah diartikan dalam tata bahasa Indonesia yang diartikan tunggal atau satu terimakasih dan wassalamualaikum

  9. Appandi berkata:

    Boleh Saya meluruskan sedikit? Kalimat “Pemerintah melarang kebebasan untuk tidak memilih agama.” menurut saya bertentangan dengan kalimat “Pemerintah melarang adanya paksaan memeluk/meninggalkan suatu agama.”. Kenapa? Karena kalimat di point ke-3 itu sebenarnya berasal dari dua kalimat, yaitu “Pemerintah melarang adanya paksaan memeluk suatu agama.” dan “Pemerintah melarang adanya paksaan meninggalkan suatu agama.” yang digabungkan menjadi kalimat yang anda tulis di point ke-3 tersebut. Jika pemerintah melarang kebebasana untuk tidak memilih agama, itu sama saja dengan pemerintah memaksa untuk memeluk agama. Sedangkan di point ke-3 dikatakan pemerintah melarang adanya paksaan untuk memeluk agama.

  10. Akung Ibnu berkata:

    1.Tuhan Yang Maha Esa adalah hasil akal budi manusia, keseimbangan dinamis antara akal dan batin notasi Psychominimalisnya ‘(>). Jika fikiran manusia (“>) menyatu dengan akal (‘>) akan menghasilkan superior etelegensia ‘(>>)’ sehingga menjadikan manusia merasa paling unggul, tidak ada yang melebihi.
    “(>>)’ dapat menciptakan peralatan canggih sehingga manusia sanggup mengakses Alam Semesta (versi science) yang sangat luas dan partikel yang sangat halus dengan peralatan fisika mutakhir.
    Berdasar filosofi materialisme: yang tidak terakses oleh pancaindera dan peralatan canggih fisika, apalagi yang tidak dapat diterima akal menjadi diragukan kebenarannya. Timbulah anogtisme yang “meragukan janji Tuhan”.
    Berdasar logika fikir : manusia yang terbius oleh kenikmatan duniawi hasil filosofi materialisme menjadi ingin serba instant, sehingga tidak hanya meragukan Janji Tuhan meliankan tidak mengakui adanya Tuhan. Timbulah atheisme.

  11. kalemzuts berkata:

    maaff kita ini bangsa indonesia apa bangsa jawa nusantara sih.? ( meski aku wong jawa ) hehe Sila pertama sendiri sebenarnya berbunyi “Ketuhanan yang maha esa dengan menjalankan syariat2 Islam bagi pemeluknya” namun perwakilan indonesia timur tidak menyetujui karena merasa tidak terwakili, di sana kan mayoritas non islam. Dan demi persatuan dan keutuhan NKRI maka bunyinya cukup menjadi : Ketuhanan yang Maha Esa. kok tiba2 ada istilah dalam bahasa Sansekerta ataupun bahasa Pali,Pada saat penyusunan UUD pada Sidang Kedua BPUPKI, Piagam Jakarta dijadikan Muqaddimah (preambule). Selanjutnya pada pengesahan UUD 45 18 Agustus 1945 oleh PPKI, istilah Muqaddimah diubah menjadi Pembukaan UUD. Butir pertama yang berisi kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya, diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa oleh Drs. M. Hatta atas usul A.A. Maramis setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo.

    Naskah Piagam Jakarta ditulis dengan menggunakan ejaan Republik dan ditandatangani oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, H.A. Salim, Achmad Subardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yami
    Rumusan Pancasila yang sekarang adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila tersebut adalah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan hasil dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dengan tegas menyatakan: “Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”

    Jadi, Dekrit Presiden Soekarno itulah yang menempatkan Piagam Jakarta sebagai bagian yang sah dan tak terpisahkan dari Konstitusi Negara NKRI, UUD 1945. Dekrit itulah yang kembali memberlakukan Pancasila yang sekarang. Prof. Kasman Singodimedjo, yang terlibat dalam lobi-lobi tanggal 18 Agustus 1945 di PPKI, menyatakan, bahwa Dekrit 5 Juli 1959 bersifat “einmalig”, artinya berlaku untuk selama-lamanya (tidak dapat dicabut). “Maka, Piagam Jakarta sejak tanggal 5 Juli 1959 menjadi sehidup semati dengan Undang-undang Dasar 1945 itu, bahkan merupakan jiwa yang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 tersebut,” tulis Kasman dalam bukunya, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982
    ini hanya copy paste dari ( https://mutiarazuhud.wordpress.com/tag/piagam-jakarta/ ) kalau saya salah mohon beri pencerahan karena cuma iseng cppaste hehe.

  12. bbudiarto berkata:

    kalau kita lihat dalam sinonim kata dalam sinonimkata.com….kata ESA sinonimnya adalah..ahad…satu…tunggal…memusatkan…menunggalkan….menyatukan…dan ada pepatah esa terbilang…artinya satu terbilang..dan dalam sila pertama itu Tuhan Maha Esa sudah dimasukkan dalam kosa kata bahasa indonesia…yang artinya adalah TUNGGAL.Demikian.

  13. Adi berkata:

    Apakah sila pertama juga menajamin hak warga negara yang tidak beragama untuk tetap pada kepercayaannya, dalam kasus ini “ketidakpercayaannya” ?

  14. anadzat berkata:

    Ketuhanan YANG MAHA ESA memancar dalam perikemanusiaan. Tapi perikemanusiaan tanpa “TAUHID” adalah tidak sejati..!!! Sebagaimana sejati nya ilmu TAUHID Nabi Muhammad Salallahu A’laihi Wasallam.

  15. Agus berkata:

    Intinya kata Esa tidak sama dengan satu wujud / satu individu. meniurut agama Hindu Tuhan Esa adalah eksistensi yang benar / kekal tdk ada yg kedua, yg ada dimana-mana tanpa batas, tanpa wujud dan tanpa Nama dari mana semua manifestasi berasal / terwujud. Jadi berbagai jenis wujud pun bisa ada dimana-mana walaupun tanpa batas, wujud selalu berubah dan tdk kekal. Jadi Tuhan esa kalau diartikan Satu Wujud yg tdk setara wujudnya jelas keliru.

  16. Ban Kempes berkata:

    Tuhan Kristenkan ada, 3 (Trinitas) Tuhan bapak, Tuhan Anak, Roh Kudis eh Roh kudus (burung Kontol eh Burung Merpati/Roh kudus)

  17. raidberandal berkata:

    Ngawur blass, sudah banyak yg diplintir pengertian asli dari ketuhanan yang maha esa dalam referensi/daftar pustaka diatas, kemungkinan besar ini disengaja untuk kepentingan golongan tertentu ya? sekali lagi, aku bilangnya tuhan bukan dewa ya. Sebab golongan yang memiliki dewa lebih dari satu tidak dipermasalahkan, sama2 korban penjajah bertuhan lebih dari 1. karena pada dasarnya sila pertama ketuhanan yang maha esa ditujukan untuk menampar keras agar tidak terulang lagi datangnya para penjajah yang banyak dikenal dengan keyakinannya lebih dari 1 tuhan. Jika ada yang triak2 Pancasila~ Pancasila dari golongan ini, sadar dirilah! sila pertama telah dinistakan.

  18. taufiqtop berkata:

    Apa yang sudah dirumuskan para pendahulu kita sudah dipikirkan dengan matang, dilakukan dengan cara musyawarah mufakat.

    Sila pertama, “Ketuhanan yang maha esa”, Menurut KBBI:

    esa num tunggal; satu;– hilang, dua terbilang, pb berusaha terus dengan keras hati hingga maksud tercapai; berbilang dari — , mengaji dari alif, pb melakukan sesuatu hendaknya dari permulaan;

    ber·e·sa-e·sa·an v 1 cak berada seorang diri saja; 2 merasa lengang;

    meng·e·sa·kan v menjadikan (menganggap) satu: ~ Tuhan (mengakui bahwa Tuhan hanya satu);

    ke·e·sa·an n sifat yang satu: ~ Tuhan

    Ma·ha Esa a amat tunggal (Allah)

  19. Elder Maxson coat berkata:

    I’ve been sufing online more than 2 hours today, yet I never found anyy interesting article like yours.
    It’s prrtty worth enough for me. In my view, if all website owners and bloggers made good content as you did, the net will
    be much more useful than ever before.

  20. susilo berkata:

    ketuhanan dari kata tuhan bentuknya umum dan dipembukaan sebutkan siapa.tuhan itu.yang dimaksud yaitu Allah yang memiliki rahmat. bro jangan mengajarkan yang sesat.
    penjajah datang ke indonesia membawa 3 misi yaitu 3G. sehingga para pendiri bangsa ini sudah memberi kebebasan buat agama penjajah boleh tinggal di indonesia dengan cacatan tidak memaksakan agama kepada agama lain.
    janganlah kau rusak yang sudah ada pancasila ini dan kamu tafsirkan pake akalmu demi kepentinganmu. baca sejarah buat referensi buku API 1&2

  21. Rizaldy Ardhiansyah berkata:

    Referensi cuma segede upil udah brani bikin artikel, banyakin referensi dulu baru on. Sejarah bukan hal yg bisa lo belok2kin kaya dengkul lu.
    Sekolah yang benner, belajar sejarah dulu sana & stop berkata kata tanpa dasar yang jelas.

  22. Zerokurt berkata:

    Jangan menyesatkan mbk, sampaikanlah kebenaran, ketuhanan yang maha esa mempunyai makna Tuhan yang hanya satu, dalam kitab Alquran Tuhan yang maha esa Allah, dalam Injil juga dijelaskan Tuhan kita satu, Tuhan yang esa Allah, dalam kitab Hindu Wedha pun menyatakan Tuhan hanya satu, agama Yahudi hanya 1. Yang semua nya telah di ajarkan oleh rasul-rasul Allah SWT kenyataanya hanya dalam Islam yang mengamalkan ketuhanan yang maha esa. Kemerdekaan indonesia adalah Rahmat dari Allah SWT. Sejak dijajajh kurang lebih 360 abad akhirnya bisa merdeka, dan perjuangan pemimpin yang mayoritas dari Muslim, dr pak Ir Soekarno,Hatta, dan para ulama dan pemuda Islam, hal ini yang banyak disembunyikan banyak pihak dibalik kemerdekaan indonesia

  23. Faisal reza berkata:

    kalau sila kesatu diartikan memakai bahasa pali atau saksekerta (yg memang mgkin salah satu bahasa adopsi bahasa indonesia seperti juga bahasa arab, bahasa melayu dan belanda)…maka semua sila juga harus dipakai bahasa pali atau sansekerta kalau harusnya konsisten…..

    dan kalau semua sila diinterpertasikan pakai bahasa asalnya yaitu pali atau sansekerta maka maknanya bisa kacau semua….

    seperti kita di orang Islam tetep kadang memakai kata sembahyang ….padahal sembahyang juga sembah nang eyang yg juga berasal dari bahasa jawa yg ujung2 nya juga ke bahasa sansekerta….

    Jadi bahasa waktu itu sudah mengalami perubahan makna karena bahasa sansekerta secara umum sudah waktu terbentuknya pancasila tidak dipakai lagi…

    jadi waktu itu tahun 1945 yg dipakai sudah menggunakan tatanan bahasa melayu yang juga sebagai dasar umum penataaan kamus bahasa indonesia….bukan bahasa sansekerta dasarnya….atau bahkan pali yang diapakai jaman majapahit atau sebelumnya…atau bahkan sesudahnya.

    Jadi makna interpretasi ya harusnya setidaknya pakai bahasa melayu bukan bahasa sansekerta…dan bahsa melayu sendiri sudah luas….seperti menyebar sampai ke guam….yang tentunya menajuk ke akar bahasa Malay polynesian.

    Sebab kalau salah satu butir pancasila yang hanya diterjemahkan pakai bahasa sansekarta akan sangat tidak konsisten kalau butir2 lain tidak bisa diterjemahkan pakai bahsa sansekerta.

    Jadi Saya tidak setuju kalau yg dimaksud Esa disini adalah Kuasa menurut bahasa sansekerta…tapi alih2 sudah mengalami evolusi makna ke Tunggal berdasarkan bahasa melayu pada tahun 1945 tersebut….

    Sdgkan kamus bahasa indonesia sendiri juga asalnya berdasarkan kamus bahasa melayu karangan haji ali sang pujangga melayu asal selangor tapi meninggal di Kep Riau…dimana beliau mengarang Kamus Loghat melayu ini sekiatar abad 19 an atau 100 tahun sebelum dirumuskannya pancasila itu sendiri….

    ajdi pada waktu itu pengertian bahasa melayu sudah sangat luas dipakai di nusantara…

    https://id.wikipedia.org/wiki/Ali_Haji_bin_Raja_Haji_Ahmad

    Apalagi kalau Pembentukan Pancasila juga dikaitkan dgn pembentukan UUD 1945 dimana di preambule nya dikatakan ‘Atas Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa’…ini akan menjadi bingung kalau kata Allah dikaitkan dengan bahasa Pali atau Sansekerta…

    Salam
    faisal

    • Faisal reza berkata:

      Lebih lanjut lagi

      harus kita akui ada perbedaan pendapat dari Ir Soekarno dan H Agoes Salim mengenai arti Ketuhanan yang Maha Esa

      dimana Pak Karno mengatakan bahwa Ketuhanan yang maha Esa adalah dilakukan berdasarkan persepsi penganut agama itu sendiri

      Dalam pidato 1 Juni 1945 itu Soekarno berkata:

      “ …. Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia merdeka denganbertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-tuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.

      Dan disinipun pengertian Soekarno tentang Ketuhanan yang Maha Esa pun tidak sama dengan maknanya dalam bahasa Pali ataupun Sansekerta…jadi tidak ada kesamaan disini pun antara makna nya dalam bahasa Pali atau sansekerta dgn makna yang diingterpretasikan oleh Ir Soekarno..

      dan kita tahu bahwa konsep awal Pancasila versi Soekarno hanya memakai Ketuhanan yang berkebudayaan dan tanpa menggunakan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila Ketuhanan itu sendiri ditempatkan pada Sila ke 5.

      Sedangkan Interpretasi Ketuhanan Yang Maha Esa menurut H Agoes salim pada buku Seratus Tahun Haji Agoes Salim dinyatakan bahwa Ketuhanan yang Maha Esa adalah artinya Esa adalah Maha tunggal, silahkan baca sendiri bukunya

      dan ini sangat konsisten dengan yang saya tulis sebelumnya bahwa sebenernya arti Esa pada jaman itu bukan memakai bahasa sanskerta atau bahkan bahsa pali lagi….tapi sudah menggunakan bahasa melayu…dan kita tahu bahwa Haji Agoes Salim adalah juga sebenernya adalah seorang ahli bahasa baik bahasa Melayu, Arab, Belanda dan Inggris, tolong bisa dibaca lagi bukunya.

      Tetapi begitu juga Haji Agoes Salim yang sangat bijaksana dengan mengatakan bahwa penganut agama lain juga bebas memaknai apa arti kata Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut.

      Pancasila versi Haji Agoes Salim sangat dekat dengan Pancasila dengan versi yg digunakan saat ini perbedaan hanyalah pada sila satu dimana yang sangat populer disebut piagam Jakarta

      Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja

      Jadi semua urutan silanya juga sama dengan yang sekarang tapi sila yang pertama diganti dan disesuaikan dengan Ketuhanan yang Maha Esa dimana menurut beliau hal ini sangat Islami yang menajuk pada QS Al Ikhlas ayat pertama dimana diartikan Katakanlah Dialah Allah Zat yang maha Esa.

      Jadi kita harus ingat bahwa konsep awal Pancasila versi Soekarno tentang sila Ketuhanan yang berkebudayaan pada sila ke 5 sedangkan menurut golongan Islam termasuk Haji Agoes Salim adalah menggunakan piagam Jakarta dan akhirnya diubah ke Ketuhanan yang Maha Esa pada sila pertama tapi serupa dengan piagam Jakarta.

      Kita juga harus tahu bahwa Ketuhanan yang Maha Esa juga merupakan konsep awal Pancasila vrsi Moehammad Yamin.

      Dan baik dari Soekarno ataupun dari Agoes Salim yang dari golongan Islam yang telah saya baca. tidak satupun yang menerjemahkan arti dari salah satu atau semua sila Pancasila itu dengan bahasa Pali atau Sansekerta terutama yang dibicarakan disini adalah Yang Maha Esa karena tidak akan menjadi logis kalau hanya sila ini saja yang menjadi khusus untuk diterjemahkan ke bahasa Pali Atau Sansekerta.

      Salam

      faisal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s